Wednesday, February 24, 2010

Sapu lidi

12 komentar



Semua pasti pada tahu sapu lidi kan..?!


Dulu sewaktu kecil saya sering kebagian tugas untuk membersihkan halaman rumah. Sapu lidi menjadi alat utama saya.

Sapa lidi itu juga memiliki pilosopi lho..! Utamanya tentang persatuan..!

Pernah ngebayangin gak gimana jadinya kalo kita mau membersihkan halaman dari sampah-sampah hanya dengan sapi lidi. Iya hanya dengan satu lidi. Halamannya bakal gak bersih-bersih, bahkan mungkin kita akan di cap manusia aneh. Heheheh..

Tapi coba bayangkan kalo ratusan lidi disatukan dan digunakan untuk menyapu. Kebersihan halaman bukan cuman jadi mimpi. Tapi bisa diwujudkan. Intinya perlunya persatuan dari hal terkecil sampai ke hal terbesar untuk mencapai tujuan....

Diri sendiri: Bisa ngebayangin gak kalo anggota-anggota tubuh kita semua pada egois. Tulang gak mau tahu urusan otot, perut gak mau tahu urusan otak, otak gak ngasih tahu apa-apa kepada organ lain. Kaki kemana-mana sesukanya. Perut gak mau terima pemberian mulut dan mulut gak mau ngasih apa-apa ke perut... dan sebagainya....! <---bakal mati saya rasa..! Hehehehe
Orangtua:
Ya, saya rasa kita semua tahu kalo kedua orang tua kita tidak bersatu dan "bersatu", kita gak bakal ada di dunia ini..! Hheheh

Masyarakat, bangsa dan negara. Sama saja.

Lha karet (tali) yang mengikat lidi-lidi itu? Iya, dibutuhkan satu ikatan untuk menyatukan pluralisme, kemajemukan dan keberagaman lainnya agar kita mencapai tujuan keberadaan kita.


Gambar dari sini

Tuesday, February 23, 2010

Sakit Perut...!

8 komentar
Beberapa hari yang lalu saya sakit perut. Salah saya sendiri sih, malam sebelumnya saya kebanyakan makan sesuatu yang sangat berpotensi membuat perut merana. Saya jadi akrab dengan kamar mandi. Saya rasa kamar mandinya sampai bosan ketemu dengan saya. "Ehhh, lo lagi lo lagii...!" kira-kira begitulah.

Sakit perut yang saya alami itu menyadarkan saya akan sebuah pilosopi. Apa yang kamu beri (ke perutmu, ke hidupmu), itu juga yang akan kamu dapatkan (dari perutmu, hidupmu).

Sakit perut yang saya alami sekarang adalah pengaruh makanan yang saya makan malam sebelumnya. Hidup itu juga kadang-kadang begitu, masalah yang kita hadapi sekarang tak jarang karena kesalahan kita di masa lalu. Wajar memang manusia melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti kita luput dari kompensasinya.

Jadi, kalo dikemudian hari gak menghadapi masalah (sakit perut) yang tidak kita inginkan, "mari makan makanan yang sehat, bergizi" dan sesuai kehendak-Nya.

Hidup itu cuman sekali, tapi kalo kita melakukannya dengan benar sekali saja sudah cukup. Iya, hidup itu cuman sekali, dan karena itulah kita berjuang keras untuk melakukannya dengan benar.

|----> gambar perut sakit itu kayak gimana sih? lol

Monday, February 22, 2010

Roda troli

5 komentar


Beberapa hari yang lalu, tatkala saya bekerja di kantor saya.

Kali itu tugas saya dan teman saya adalah memeriksa buku-buku yang sudah dicetak. Mengecek kelengkapannya dan kemudian menyampaikannya ke seksi lain untuk di proses lebih lanjut. Untuk mengantarkannya ke seksi lain, kami menggunakan troli. Menaruh berkas-berkas yang sudah dicetak di atas troli dan menggiringnya ke seksi lain untuk di pilah-pilah, dikelompokkan dan dijilid.

Yang menarik perhatian saya adalah troli ini. Troli ini jika di dorong akan berjalan (ya iyalah...!) confused. Dan jika dia berjalan suaranya akan berisik. Selidik punya selidik ternyata salah satu rodanya memiliki poros yang sudah aus. Otomatis jadinya tidak seimbang. Bagaikan troli dengan roda yang memiliki ukuran yang berbeda-beda. Dan karena ketidakseimbangan itu menyebabkan gerakan troli agak oleng-oleng dan berikutnya menimbulkan getaran yang menyebabkan bantalan troli jadi berisik.

Ya, itu prinsipnya keseimbangan. Kesamaan.

Pilosopisnya:
Keempat roda troli itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari troli itu sendiri. Saya kaitkan dengan pemerintahan saja ya..! Anggap saja bantalan troli itu adalah pemerintahan, rakyat dan pemerintah itulah roda-rodanya. Semua roda harus melakukan tugasnya sebaik mungkin. Kalo ada ketimpangan akan menyebabkan pemerintahan yang "berisik". Protes dimana-mana, demo, bahkan lebih parahnya anarkisme. Bisa membayangkan kan kalo salah satu rodanya dibuat lebih tinggi? Atau salah satu rodanya dibuat lebih kecil.

Bantalan troli atau beban pembangunan bangsa ini berada disetiap pundak masyarakat Indonesia. PNS, buruh, mahasiswa, pelajar, pemerintah, wiraswasta dan lain sebagainya. Iya, kita yang memikul beban bangsa ini. Tentu saja sesuai dengan posisi kita masing-masing. Ada yang di depan, ada yang dibelakang. Tak mungkin ke empat roda troli itu dipindahkan kedepan semua atau ke belakang semua. Gimana jalannya.. iya gak? Apalagi harus membawa beban yang berat..?


Pilosopi ini bisa juga dikaitkan dalam kehidupan pernikahan. Jika roda depan (suami) melaju ke depan, janganlah roda belakang (istri) ngambek di belakang. Nanti gak jalan-jalan troli pernikahannya. Jika roda belakang (anak) melaju ke arah yang lebih baik, janganlah roda depan (orangtua) mengarahkannya ke hal-hal yang negatif. Jangan juga menghambat laju roda belakang (anak) itu dengan keegoisan, dengan kemauan sendiri tanpa memahami apa yang membuat roda belakang bahagia, bersemangat dan bergairah. Lha wong roda belakang maunya jadi arsitek kok dipaksa roda depan ke arah hukum, dokter dsbnya..! Iya sih jadi pengacara atau jadi dokter itu bukan hal yang bruuk. Sangat baik malah, tapi kalo roda belakang tidak bahagia dengan itu buat apa kan..!


Tanpa kerja sama dan keseimbangan dari keempat roda itu, akan sulit bahkan tidak bisa berkas-berkas kami itu sampai ke seksi lain, kalo ke seksi lain saja tidak bisa sampai, gimana mau sampai ke konsumen..?! Sama seperti keluarga dan pemerintahan itu, tak akan berjalan kemana-mana. Hanya stagnan dan "busuk" disitu saja...!

Mau dikaitkan ke percintaan? Jika kedua pasangan tidak bisa menjaga keseimbangan cinta mereka, tidak bisa memanfaatkan perbedaan mereka (kan harus ada roda belakanga sama roda depan), dan rodanya tidak melaju kearah yang sama, saya rasa lama-lama cinta mereka akan "busuk"...! Tak akan membawa troli percintaan mereka kearah pernikahan dan hal-hal membahagiakan lainnya.

Bisa dikaitkan dengan kehidupan kita dengan DIA. DIA yang di depan sudah menarik kita ke arah yang terbaik, kita malah pinginnya berhenti atau malah berbelok ke arah yang tak jelas. Jangan harap ada keajaiban disitu. Keajaiban selalu terjadi jika kita di dekat-Nya. Turutilah jika DIA menarik kita ke arah yang DIA mau.


______________________________
Dan foto itu saya buat sendiri. Di kantor.
Di pilosopiskan dengan penuh kesadaran bahwa troli itu bukan perumpamaan yang sempurna. tak ada yang sempurna. Terlebih itu masih di bumi.

Wednesday, February 17, 2010

Keran Air...!

8 komentar
Lama sekali saya tidak posting lagi. Rasanya saya baru ingat kalo saya juga punya Blog. Hehehehe. Komen Hadidot di postingan sebelumnya mengingatkan saya akan blog ini. Saya gak terlalu sering nge-net sebenarnya. Hanya saja, saat ada yang ingin saya tulis, saya langsung ke warnet untuk menumpahkannya di blog.

Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang terpikirkan tatkala air mampet di kosan saya. Ini bukan tentang airnya. Tapi tentang keran air dan pipanya...!



Ada apa dengan itu?. Air mengalir dari penampungan air melalui pipa (bisa pake pipa, bisa juga dari penampungan langsung ke kran), dan mengeluarkannya melalui keran air. Kalau air terus dialirkan itu artinya pipa akan selalu dialiri air yang baru dan keran akan mengeluarkan air yang baru juga. Ini tentang berbagi dan memberi...!

Pilosopisnya:
Air itu bisa diibaratkan sebagai harta. Harta itu bisa berupa ilmu pengetahuan, jabatan, pengalaman hidup, materi, motivasi, tekhnik pekerjaan dan lain sebagainya. Tandon atau penampungan itulah yang Maha Berilmu. Pipa jalan hidup kita. Kran itu saya ibaratkan otak kita, tubuh kita, mulut kita, tangan kita, kaki kita, ya kita ibaratkan diri kita sendiri. Dan kita punya hak untuk membuka kran hidup kita maupun menutupnya.

Yang Maha Berilmu selalu memberikan kita air-air terbaik untuk kita gunakan dalam menghadapi hidup. Mengisi pipa-pipa kehidupan kita. Besar kecilnya pipa kehidupan kita bukanlah menjadi masalah, yang jadi masalah adalah di kran nya. Sebagai manusia sebaiknya mengalirkannya melalui keran untuk membantu orang lain, untuk membuat sesuatu yang bisa membuat orang lain bahagia. Untuk mengisi penampungan air orang lain. Kalau keran itu tertutup, otomatis tidak ada aliran dan pipa akan menikmati air yang itu-itu saja. Tidak ada perkembangan baru.
Keran air yang tertutup tak akan pernah mendapatkan air yang baru...!

Banyak kan manusia yang egois, setelah yang Maha Memberi mengisi pipa-pipa kehidupannya dengan harta (ilmu pengetahuan, jabatan, pengalaman hidup, materi, motivasi, tekhnik pekerjaan dan lain sebagainya) tapi tidak mau membaginya. Disimpan sendiri dalam pipa-pipa kehidupannya. Yang Maha Memberi mungkin akan berpikir pipanya tersumbat, atau kerannya rusak, Kemudian menggantinya dengan yang baru. Lha emang pipa bisa tersumbat? Bisa donk, sumbatan keegoisan, sumbatan kesombongan, sumbatan attitude eh-siape-lo?, sumbatan korupsi, sumbatan kebohongan, sumbatan ketidakpedulian sama orang lain...!

Jangan sampai, ketika kita dipercayakan sebuah harta oleh yang Maha Memberi, kita malah menyumbatnya untuk diri kita sendiri. BELIAU berhak lho membersihkan pipa yang tersumbat dengan cara-Nya, mengganti pipa itu dengan yang baru, atau mengganti kerannya.
"Jangan sampai yang Empunya Air merasa kita ini adalah pipa yang tersumbat, atau keran yang rusak. Beliau berhak menggantinya...!"

Gambar diambil dari sini.
Kok gak ada tandonnya? Jangan tanyakan padaku...! Saya kan Pilosopi Bodoh. Heheheheh