Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Wednesday, February 24, 2010

Sapu lidi

10 komentar



Semua pasti pada tahu sapu lidi kan..?!


Dulu sewaktu kecil saya sering kebagian tugas untuk membersihkan halaman rumah. Sapu lidi menjadi alat utama saya.

Sapa lidi itu juga memiliki pilosopi lho..! Utamanya tentang persatuan..!

Pernah ngebayangin gak gimana jadinya kalo kita mau membersihkan halaman dari sampah-sampah hanya dengan sapi lidi. Iya hanya dengan satu lidi. Halamannya bakal gak bersih-bersih, bahkan mungkin kita akan di cap manusia aneh. Heheheh..

Tapi coba bayangkan kalo ratusan lidi disatukan dan digunakan untuk menyapu. Kebersihan halaman bukan cuman jadi mimpi. Tapi bisa diwujudkan. Intinya perlunya persatuan dari hal terkecil sampai ke hal terbesar untuk mencapai tujuan....

Diri sendiri: Bisa ngebayangin gak kalo anggota-anggota tubuh kita semua pada egois. Tulang gak mau tahu urusan otot, perut gak mau tahu urusan otak, otak gak ngasih tahu apa-apa kepada organ lain. Kaki kemana-mana sesukanya. Perut gak mau terima pemberian mulut dan mulut gak mau ngasih apa-apa ke perut... dan sebagainya....! <---bakal mati saya rasa..! Hehehehe
Orangtua:
Ya, saya rasa kita semua tahu kalo kedua orang tua kita tidak bersatu dan "bersatu", kita gak bakal ada di dunia ini..! Hheheh

Masyarakat, bangsa dan negara. Sama saja.

Lha karet (tali) yang mengikat lidi-lidi itu? Iya, dibutuhkan satu ikatan untuk menyatukan pluralisme, kemajemukan dan keberagaman lainnya agar kita mencapai tujuan keberadaan kita.


Gambar dari sini

Monday, February 22, 2010

Roda troli

5 komentar


Beberapa hari yang lalu, tatkala saya bekerja di kantor saya.

Kali itu tugas saya dan teman saya adalah memeriksa buku-buku yang sudah dicetak. Mengecek kelengkapannya dan kemudian menyampaikannya ke seksi lain untuk di proses lebih lanjut. Untuk mengantarkannya ke seksi lain, kami menggunakan troli. Menaruh berkas-berkas yang sudah dicetak di atas troli dan menggiringnya ke seksi lain untuk di pilah-pilah, dikelompokkan dan dijilid.

Yang menarik perhatian saya adalah troli ini. Troli ini jika di dorong akan berjalan (ya iyalah...!) confused. Dan jika dia berjalan suaranya akan berisik. Selidik punya selidik ternyata salah satu rodanya memiliki poros yang sudah aus. Otomatis jadinya tidak seimbang. Bagaikan troli dengan roda yang memiliki ukuran yang berbeda-beda. Dan karena ketidakseimbangan itu menyebabkan gerakan troli agak oleng-oleng dan berikutnya menimbulkan getaran yang menyebabkan bantalan troli jadi berisik.

Ya, itu prinsipnya keseimbangan. Kesamaan.

Pilosopisnya:
Keempat roda troli itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari troli itu sendiri. Saya kaitkan dengan pemerintahan saja ya..! Anggap saja bantalan troli itu adalah pemerintahan, rakyat dan pemerintah itulah roda-rodanya. Semua roda harus melakukan tugasnya sebaik mungkin. Kalo ada ketimpangan akan menyebabkan pemerintahan yang "berisik". Protes dimana-mana, demo, bahkan lebih parahnya anarkisme. Bisa membayangkan kan kalo salah satu rodanya dibuat lebih tinggi? Atau salah satu rodanya dibuat lebih kecil.

Bantalan troli atau beban pembangunan bangsa ini berada disetiap pundak masyarakat Indonesia. PNS, buruh, mahasiswa, pelajar, pemerintah, wiraswasta dan lain sebagainya. Iya, kita yang memikul beban bangsa ini. Tentu saja sesuai dengan posisi kita masing-masing. Ada yang di depan, ada yang dibelakang. Tak mungkin ke empat roda troli itu dipindahkan kedepan semua atau ke belakang semua. Gimana jalannya.. iya gak? Apalagi harus membawa beban yang berat..?


Pilosopi ini bisa juga dikaitkan dalam kehidupan pernikahan. Jika roda depan (suami) melaju ke depan, janganlah roda belakang (istri) ngambek di belakang. Nanti gak jalan-jalan troli pernikahannya. Jika roda belakang (anak) melaju ke arah yang lebih baik, janganlah roda depan (orangtua) mengarahkannya ke hal-hal yang negatif. Jangan juga menghambat laju roda belakang (anak) itu dengan keegoisan, dengan kemauan sendiri tanpa memahami apa yang membuat roda belakang bahagia, bersemangat dan bergairah. Lha wong roda belakang maunya jadi arsitek kok dipaksa roda depan ke arah hukum, dokter dsbnya..! Iya sih jadi pengacara atau jadi dokter itu bukan hal yang bruuk. Sangat baik malah, tapi kalo roda belakang tidak bahagia dengan itu buat apa kan..!


Tanpa kerja sama dan keseimbangan dari keempat roda itu, akan sulit bahkan tidak bisa berkas-berkas kami itu sampai ke seksi lain, kalo ke seksi lain saja tidak bisa sampai, gimana mau sampai ke konsumen..?! Sama seperti keluarga dan pemerintahan itu, tak akan berjalan kemana-mana. Hanya stagnan dan "busuk" disitu saja...!

Mau dikaitkan ke percintaan? Jika kedua pasangan tidak bisa menjaga keseimbangan cinta mereka, tidak bisa memanfaatkan perbedaan mereka (kan harus ada roda belakanga sama roda depan), dan rodanya tidak melaju kearah yang sama, saya rasa lama-lama cinta mereka akan "busuk"...! Tak akan membawa troli percintaan mereka kearah pernikahan dan hal-hal membahagiakan lainnya.

Bisa dikaitkan dengan kehidupan kita dengan DIA. DIA yang di depan sudah menarik kita ke arah yang terbaik, kita malah pinginnya berhenti atau malah berbelok ke arah yang tak jelas. Jangan harap ada keajaiban disitu. Keajaiban selalu terjadi jika kita di dekat-Nya. Turutilah jika DIA menarik kita ke arah yang DIA mau.


______________________________
Dan foto itu saya buat sendiri. Di kantor.
Di pilosopiskan dengan penuh kesadaran bahwa troli itu bukan perumpamaan yang sempurna. tak ada yang sempurna. Terlebih itu masih di bumi.

Tuesday, October 27, 2009

[Pilosopi Bodoh] Sepeda

29 komentar



Jreng jreng jrenggg.....
Sepeda. Iya sepeda. (Yang dimaksud dengan sepeda dipostingan ini adalah, sepeda seperti dalam gambar, sepeda yang mirip dengan gambar, dan sejenisnya yang kesejenisannya tidak disahkan oleh Undang-undang).

Saya cukup berterimakasih atas jasanya (sepeda) yang selalu berhasil menghantarkan tubuh ini dari rumah hingga ke sekolah, tatkala SMA dulu. Masih teringat, betapa kecewanya dia (sepeda itu) tatkala suatu waktu saya berhenti memakai jasanya kesekolah. Bukan karena apa-apa sih, saya hanya sedih, kecewa dan muak kepada beberapa teman. Waktu itu ada teman sekolah yang dengan sengaja menyenggol sepeda (lama) saya, memamerkan motor barunya itu. Tapi, what a hell, this is me... pria bersepeda.... Aku hanya muak dengan sikap orang seperti itu, tetapi tidak muak dengan sepedaku. Aku kembali mengelus-elusnya, mencucinya, meminyakinya, mem-pilox-kan namaku di situ, dengan huruf jepang Hiragana yang saya pelajari secara otodidak). Watashi wa nihongo ga dekimasen. (Maafkan saya kalo tulisannya salah) Hehe7x...


Ada salah satu Pilosopi yang saya suka dari sepeda. Bannya. Bannya yang cuma dua itu. Yang dibelakang selalu percaya untuk mengikuti yang di depan, yang dibelakang pasti selalu menjawab kepercayaan yang dibelakang dengan baik. Dua-duanya memiliki kecepatan yang sama, tak pernah terlalu lambat dan tak pernah terlalu cepat.

Melakukan tugasnya di posisnya masing-masing... dengan baik...!

Manusia, ada juga yang dalam hal seperti itu saja gagal. Selalu ingin menyerobot posisi depan panggung. Tidak masalah sih, asal jangan meninggalkan posisi ban belakangnya kosong, tak bisa dipungkiri, manusia selalu berusaha meraih yang terbaik, tapi sebaiknya jangan menggunakan cara menyerobot.....

Menyerobot? Contoh lain...
Ada manusia yang mungkin sudah memiliki posisi sebagai istri seseorang (ban belakang), namun masih saja menyerobot istrinya orang lain (ban depan)...

Saya, yang masih muda belia ini, berharap bisa seperti ban sepeda itu jika berkeluarga nanti. Selalu bersama-sama, dalam suka dan duka, meski tak selalu begitu secara badaniah. Namun hati ini selalu dekat dengan(hati)nya...!!

Semoga suatu saat, saat saya berkeluarga, saya masih teringat postingan ini, dan berhasil seperti postingan ini, sekaligus masih memostingnya disini... ^^


Fotonya diambil dari sini.