Showing posts with label saya dan DIA. Show all posts
Showing posts with label saya dan DIA. Show all posts

Tuesday, February 23, 2010

Sakit Perut...!

8 komentar
Beberapa hari yang lalu saya sakit perut. Salah saya sendiri sih, malam sebelumnya saya kebanyakan makan sesuatu yang sangat berpotensi membuat perut merana. Saya jadi akrab dengan kamar mandi. Saya rasa kamar mandinya sampai bosan ketemu dengan saya. "Ehhh, lo lagi lo lagii...!" kira-kira begitulah.

Sakit perut yang saya alami itu menyadarkan saya akan sebuah pilosopi. Apa yang kamu beri (ke perutmu, ke hidupmu), itu juga yang akan kamu dapatkan (dari perutmu, hidupmu).

Sakit perut yang saya alami sekarang adalah pengaruh makanan yang saya makan malam sebelumnya. Hidup itu juga kadang-kadang begitu, masalah yang kita hadapi sekarang tak jarang karena kesalahan kita di masa lalu. Wajar memang manusia melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti kita luput dari kompensasinya.

Jadi, kalo dikemudian hari gak menghadapi masalah (sakit perut) yang tidak kita inginkan, "mari makan makanan yang sehat, bergizi" dan sesuai kehendak-Nya.

Hidup itu cuman sekali, tapi kalo kita melakukannya dengan benar sekali saja sudah cukup. Iya, hidup itu cuman sekali, dan karena itulah kita berjuang keras untuk melakukannya dengan benar.

|----> gambar perut sakit itu kayak gimana sih? lol

Wednesday, February 17, 2010

Keran Air...!

8 komentar
Lama sekali saya tidak posting lagi. Rasanya saya baru ingat kalo saya juga punya Blog. Hehehehe. Komen Hadidot di postingan sebelumnya mengingatkan saya akan blog ini. Saya gak terlalu sering nge-net sebenarnya. Hanya saja, saat ada yang ingin saya tulis, saya langsung ke warnet untuk menumpahkannya di blog.

Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang terpikirkan tatkala air mampet di kosan saya. Ini bukan tentang airnya. Tapi tentang keran air dan pipanya...!



Ada apa dengan itu?. Air mengalir dari penampungan air melalui pipa (bisa pake pipa, bisa juga dari penampungan langsung ke kran), dan mengeluarkannya melalui keran air. Kalau air terus dialirkan itu artinya pipa akan selalu dialiri air yang baru dan keran akan mengeluarkan air yang baru juga. Ini tentang berbagi dan memberi...!

Pilosopisnya:
Air itu bisa diibaratkan sebagai harta. Harta itu bisa berupa ilmu pengetahuan, jabatan, pengalaman hidup, materi, motivasi, tekhnik pekerjaan dan lain sebagainya. Tandon atau penampungan itulah yang Maha Berilmu. Pipa jalan hidup kita. Kran itu saya ibaratkan otak kita, tubuh kita, mulut kita, tangan kita, kaki kita, ya kita ibaratkan diri kita sendiri. Dan kita punya hak untuk membuka kran hidup kita maupun menutupnya.

Yang Maha Berilmu selalu memberikan kita air-air terbaik untuk kita gunakan dalam menghadapi hidup. Mengisi pipa-pipa kehidupan kita. Besar kecilnya pipa kehidupan kita bukanlah menjadi masalah, yang jadi masalah adalah di kran nya. Sebagai manusia sebaiknya mengalirkannya melalui keran untuk membantu orang lain, untuk membuat sesuatu yang bisa membuat orang lain bahagia. Untuk mengisi penampungan air orang lain. Kalau keran itu tertutup, otomatis tidak ada aliran dan pipa akan menikmati air yang itu-itu saja. Tidak ada perkembangan baru.
Keran air yang tertutup tak akan pernah mendapatkan air yang baru...!

Banyak kan manusia yang egois, setelah yang Maha Memberi mengisi pipa-pipa kehidupannya dengan harta (ilmu pengetahuan, jabatan, pengalaman hidup, materi, motivasi, tekhnik pekerjaan dan lain sebagainya) tapi tidak mau membaginya. Disimpan sendiri dalam pipa-pipa kehidupannya. Yang Maha Memberi mungkin akan berpikir pipanya tersumbat, atau kerannya rusak, Kemudian menggantinya dengan yang baru. Lha emang pipa bisa tersumbat? Bisa donk, sumbatan keegoisan, sumbatan kesombongan, sumbatan attitude eh-siape-lo?, sumbatan korupsi, sumbatan kebohongan, sumbatan ketidakpedulian sama orang lain...!

Jangan sampai, ketika kita dipercayakan sebuah harta oleh yang Maha Memberi, kita malah menyumbatnya untuk diri kita sendiri. BELIAU berhak lho membersihkan pipa yang tersumbat dengan cara-Nya, mengganti pipa itu dengan yang baru, atau mengganti kerannya.
"Jangan sampai yang Empunya Air merasa kita ini adalah pipa yang tersumbat, atau keran yang rusak. Beliau berhak menggantinya...!"

Gambar diambil dari sini.
Kok gak ada tandonnya? Jangan tanyakan padaku...! Saya kan Pilosopi Bodoh. Heheheheh

Tuesday, November 3, 2009

[Pilosopi Bodoh] Roda Pedati

12 komentar


Ok ok ok...
Salah satu komen di [Pilosopi Bodoh] Sepeda,

Oleh hadidot berbunya begini:

btw kalo filosofi hidup bagaikan roda yg berputar dah basi ya? katanya hidup ini seperti roda,kadang diatas kadang di bawah,kadang di tengah. kadang orang kaya diatas si miskin,kadang si miskin yg jadi kaya gantian dengan si kaya,tapi katanya juga kalo rodanya kempes si kaya tambah kaya dan si miskin tambah miskin,hahahaa. filosofi roda kempes ini bener juga toh?;p
Pilosopi itu tak pernah basi Kawan,.. tak pernah. Hanya saja menerapkannya yang dirasa sudah basi. Selain itu, banyak juga filosopi yang bisa diambil dari Pedati itu.


Kuda penariknya. Coba perhatikan pedati yang ditarik oleh kuda, kuda bakal dipasangi kacamata, lebih tepatnya penutup mata agar dia tidak bisa melihat kedepan, kesamping dan kemana-mana. Fokus pada perintah Sang pak Kusir. Dan dia hanya percaya pada kendali kusir. Nah, manusia seringkali sok pintar karena bisa melihat banyak hal, yang sebenarnya tidak cocok buat dirinya, malah cuek terhadap kemauan Pengendali Hidupnya.... Sok pintar di hadapan Sang Pengendali Hidup. Dan tentunya sang Pengendali Hidup memberikan kebebasan untuk manusia membawa hidupnya kemana. Tentunya dengan konsekuensi.

Rodanya. Roda itu pasti bundar Kawan, kalau tak bunder berarti bukan roda namanya. Seperti kata syair lagu, Roda saya bunder, Bunder roda saya, kalao bukan bunder, bukan roda saya...! Hehehe. Saya mempilosopi[bodoh]kan roda itu sebagai keadialan, kebersamaan, dan keseimbangan. Roda, kalo kita amati selalau memiliki poros yang [mutlak] tepat ditengah. Bisa membayangkan tidak jika porosnya tidak persis ditengah, rodanya tetep bisa berputar, tapi pedatinya bakal naik turun kayak melewati puluhan deretan polisi tidur (yg tinggi).


Coba bayangkan juga jari-jari pada roda itu. Jari-jari itu harus sama panjang, harus dikencangkan sedemikian rupa supaya velg roda tidak bengkok. Patut berterimakasih kepada bengkel "stel pelg" untuk itu. Biasanya klo stel pelg di bengkel langganan saya di surabaya, sekitar 10 ribu rupiah. (penting ya?) heheheh

Coba bayangkan juga Pak Kusir nya, kalo tidak lihai dan tidak memahami kemampuan kudanya, bakal susah payah kan mencapai tujuan. Bisa nyasar atau bahakan tak mencapai tujuan sama sekali. Anggap saja kita pak kusirnya (meski banyak pilosopi[bodoh] lainnya yg dikembangkan), dan kudanya adalah kemampuan kita. Kita yang tahu kemampuan kita, dan kita harus pandai-pandai mengarahkan kemampuan kita itu ke jalan yang benar. Hehehehe. Jangan samapai kemampuan blogging digunakan untuk menimbulkan keresahan masyarakat seperti situs" porno tak bertanggung jawab, atau kemampuan mengembangkan IT untuk membobol ATM, membobol situs dan kejahatan lainnya, atau kemampuan mempengaruhi orang digunakan untuk melakukan hal-hal tidak baik, atau kemampuan berbicara digunakan untuk memutarbalikkan faktafakta dan kebenaran di persidangan. Atau jabatan yang tinggi di gunakan untuk mengeruk keuntungan diri sendiri.


Aih, banyak nian pilosopi[bodoh] yang dapat digali dari sebuah pedati. Masih banyak...
Dan selain itu bisa dikaitkan dan diterapkan untuk banyak hal. Salam salut buat para penarik pedati, delman, gerobak sapi, dan para penemunya di jaman dulu. Salut untuk pilosopisnya, salut untuk tidak menimbulkan pencemaran udara. tetap patuhi rambu-rambu lalu lintas perpedatian dan perdelmanan Pak ya...! Hehehehe


Dan saya berterimakasih telah meminjam foto itu dari sini

Monday, November 2, 2009

[Pilosopi Bodoh] Bola

9 komentar




Permainan sepak bola tak akan pernah ada tanpa ada bola. (Ya iyalah...!)
Dan sebagai penikmat (game) bola, PES (Pro Evolution Soccer), FIFA, dll, saya berterimakasih kepada bola itu."Makasih Bola...!" Hehehe...

Dan sebagai bentuk terimakasih kepada si bola, berikut saya mau membuat sebuah pilosopi tentang bola.

Ada banyak sih Pilosopi yang bisa diambil dari Bola ini

Mencapai tujuan. Seringkali manusia mencapai tujuannya tapi tidak mau menerima ajaran, gemblengan, hajaran dan lain sejenisnya. Beda dengan bola, dia rela ditendang kesana-kemari, tak istirahat sedikitpun lebih banyak dari pemain bola, hanya demi satu tujuan. Gol. Dia rela babak belur demi senyum ceria, tawa segar si pencetak gol, atau tim yang mencetak gol. Jika saya berimajinasi sebagai bola, saat melihat wajah ceria itu merupakan saat yang penuh kenikmatan.

Bagaimana dengan kiper, atau tim yang kebobolan gol? Jangan berhenti, kan sama saja dengan tim lain, sama-sama punya hak untuk mencetak gol.

Pertandingan sepak bola yang indah itu bukan kemenangan 8-0, bukan menang kalah, bukan..... tapi you fight (dengan baik) or not?

Kebebasan. Bola itu, tidak punya kebebasan. Dia tak akan pernah menolak untuk diturunkan kelapangan. Dia tak pernah lari dari tendangan-tendangan keras para pemain, dia juga pasrah saat berdentum membentur mistar gawang. Semua itu demi gol. Cukup miris dengan kebebasan manusia, diberi kebebasan berpendapat, melakukan demo yang merusak, diberikan kebebasan hidup, hidup melawan kehendak-Nya, diberi kebebasan atau kekuasaan memimpin sebuah departemen, korupsi. Diberikan kepercayaan menjalani hidup di bumi, tapi mengecewakan-Nya.... Miris...!!

Saat merenungi penggunaan kebebasan hidup itu, sambil menonton pertandingan bola, teringat akan Pilosopi ini, saya sempat bergumam,

Jangan sampai saya paham menggunakan kebebasan yang diberikan-Nya setelah Dia mengambilnya dari saya...!


Iya, jangan sampai saya paham menggunakan kaki saya tidak untuk menendangi orang lain setelah saya kecelakaan, patah tulang lumpuh dsb...

Iya, jangan sampai saya paham bahwa memperoleh duit itu tidak boleh dengan korupsi setelah saya masuk penjara.

Iya, jangan sampai saya paham bahwa uang yang saya miliki itu bisa membahagiakan orang lain setelah saya bangkrut.

Dan iya, jangan sampai saya paham tujuan hidup justru disaat hidup itu diambil dari saya. Mati....

Saya mau hidup berarti....
Tanpa harus "memaksa" Dia mengambil kebebasan yang dilimpahkan-Nya....

*dan gambar keren itu diambil dari sini.