Ok ok ok...
Salah satu komen di
[Pilosopi Bodoh] Sepeda, Oleh hadidot berbunya begini:
btw kalo filosofi hidup bagaikan roda yg berputar dah basi ya? katanya hidup ini seperti roda,kadang diatas kadang di bawah,kadang di tengah. kadang orang kaya diatas si miskin,kadang si miskin yg jadi kaya gantian dengan si kaya,tapi katanya juga kalo rodanya kempes si kaya tambah kaya dan si miskin tambah miskin,hahahaa. filosofi roda kempes ini bener juga toh?;p
Pilosopi itu tak pernah basi Kawan,.. tak pernah. Hanya saja menerapkannya yang dirasa sudah basi. Selain itu, banyak juga filosopi yang bisa diambil dari Pedati itu.
Kuda penariknya. Coba perhatikan pedati yang ditarik oleh kuda, kuda bakal dipasangi kacamata, lebih tepatnya penutup mata agar dia tidak bisa melihat kedepan, kesamping dan kemana-mana. Fokus pada perintah Sang pak Kusir. Dan dia hanya percaya pada kendali kusir. Nah, manusia seringkali sok pintar karena bisa melihat banyak hal, yang sebenarnya tidak cocok buat dirinya, malah cuek terhadap kemauan Pengendali Hidupnya.... Sok pintar di hadapan Sang Pengendali Hidup. Dan tentunya sang Pengendali Hidup memberikan kebebasan untuk manusia membawa hidupnya kemana. Tentunya dengan konsekuensi.
Rodanya. Roda itu pasti bundar Kawan, kalau tak bunder berarti bukan roda namanya. Seperti kata syair lagu, Roda saya bunder, Bunder roda saya, kalao bukan bunder, bukan roda saya...! Hehehe. Saya mempilosopi[bodoh]kan roda itu sebagai keadialan, kebersamaan, dan keseimbangan. Roda, kalo kita amati selalau memiliki poros yang [mutlak] tepat ditengah. Bisa membayangkan tidak jika porosnya tidak persis ditengah, rodanya tetep bisa berputar, tapi pedatinya bakal naik turun kayak melewati puluhan deretan polisi tidur (yg tinggi).
Coba bayangkan juga jari-jari pada roda itu. Jari-jari itu harus sama panjang, harus dikencangkan sedemikian rupa supaya velg roda tidak bengkok. Patut berterimakasih kepada bengkel "stel pelg" untuk itu. Biasanya klo stel pelg di bengkel langganan saya di surabaya, sekitar 10 ribu rupiah. (penting ya?) heheheh
Coba bayangkan juga Pak Kusir nya, kalo tidak lihai dan tidak memahami kemampuan kudanya, bakal susah payah kan mencapai tujuan. Bisa nyasar atau bahakan tak mencapai tujuan sama sekali. Anggap saja kita pak kusirnya (meski banyak pilosopi[bodoh] lainnya yg dikembangkan), dan kudanya adalah kemampuan kita. Kita yang tahu kemampuan kita, dan kita harus pandai-pandai mengarahkan kemampuan kita itu ke jalan yang benar. Hehehehe. Jangan samapai kemampuan blogging digunakan untuk menimbulkan keresahan masyarakat seperti situs" porno tak bertanggung jawab, atau kemampuan mengembangkan IT untuk membobol ATM, membobol situs dan kejahatan lainnya, atau kemampuan mempengaruhi orang digunakan untuk melakukan hal-hal tidak baik, atau kemampuan berbicara digunakan untuk memutarbalikkan faktafakta dan kebenaran di persidangan. Atau jabatan yang tinggi di gunakan untuk mengeruk keuntungan diri sendiri.
Aih, banyak nian pilosopi[bodoh] yang dapat digali dari sebuah pedati. Masih banyak...
Dan selain itu bisa dikaitkan dan diterapkan untuk banyak hal. Salam salut buat para penarik pedati, delman, gerobak sapi, dan para penemunya di jaman dulu. Salut untuk pilosopisnya, salut untuk tidak menimbulkan pencemaran udara. tetap patuhi rambu-rambu lalu lintas perpedatian dan perdelmanan Pak ya...! Hehehehe
Dan saya berterimakasih telah meminjam foto itu dari
sini